Wednesday, April 24, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More

    Latest Posts

    Madani Islamic Forum Bahas Kritik Ibnu Taimiyah Terhadap Logika Aristoteles

    MakassarSatu.com, Makassar | Madani Institute (Center For Islamic Studies) mengadakan Madani Islamic Forum (MIF) dengan tema “Kritik Ibnu Taimiyah Terhadap Logika Aristoteles”, bertempat di Aula lantai 3 Warung Bakso Mas Cingkrang Pettarani Makassar, Sabtu (31/08/2019).

    Filsafat dan Islam adalah dua hal yang menjadi bahan perdebatan dikalangan para ulama dan pemikir
    Islam.

    Secara umum, para ulama dan pemikir Islam terbagi dalam tiga penyikapan:

    “Pertama, menolak secara tegas segala unsur filsafat. Mereka ini biasa dikenal sebagai kelompok atsari
    atau ahli hadits.

    Kedua, menolak sebagian dan menerima sebagian. Mereka menolak aspek metafisika namun
    mengadopsi aspek logika menjadi manhaj dalam mempelajari dan memahami Islam. Contoh kelompok
    ini adalah kalangan Asy’ariyah.

    See also  Camat Mamajang Melaksanakan Musrenbang Tingkat Kecamatan Mamajang

    Ketiga, menerima filsafat karena memandang terdapat kesamaan tujuan antara Islam dan filsafat.
    Contoh kelompok ini adalah kalangan Mu’tazilah yang menggunakan metode filsafat hingga ke soal-soal
    metafisik,” papar Ustaz Abu Muhammad Ibnu Rajab saat menyampaikan materinya.

    Lebih lanjut, Ia menyampaikan bahwa ada dua tipe kritik ulama terhadap logika dan filsafat Aristoteles.

    “Pertama, kritik secara parsial. Tipe kritik ini melakukan serangan terhadap filsafat dengan model
    penolakan karena (utamanya) dianggap berasal dari luar Islam. Argumentasi pokoknya adalah bahwa
    filsafat tidak dikenal oleh para sahabat dan murid-muridnya dan juga ditemukan hal-hal baru yang tidak
    pernah diajarkan oleh mereka sehingga wajib untuk ditolak. Membawa hal-hal baru diluar Al Qur’an dan
    Sunnah adalah sikap takalluf (memberat-beratkan diri).

    See also  Seklur Gaddong Pantau Satgas Kebersihan Yang Laksanakan Rutinitas

    Kedua, kritik secara menyeluruh yang melakukan kritik terhadap filsafat itu secara sistematis dengan
    menyerang aspek dasar dan kaidah-kaidah utamanya, serta sistematikan permasalahnnya dengan
    metode ilmiah yang teliti. Inilah yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah,” imbuhnya.

    Menurut Dr. Sami Ali An-Nasyaar, Ibnu Taimiyah melakukan dua hal sekaligus yaitu dekonstruksi dan
    rekonstruksi. Ibnu Taimiyah meruntuhkan logika Aristoteles dengan mendebat seluruh aspeknya, kemudian
    menunjukkan konstruksi logika Islam yang sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah.

    Awalnya, Ibnu Taimiyah melihat adanya persoalan yang ditimbulkan filsafat pada wilayah metafisik yang
    menyentuh aqidah. Namun kemudian beliau melihat bahwa hal paling mendasar dari filsafat adalah
    logika.

    Maka Ibnu Taimiyah menulis kitab (Ibn Taimiyyah, “Ar-Radd alal Mantiqiyyin, Nashihatu Ahlil Iman fi ar-Radd Mantiq al-Yunan”,
    Penerbit Maktabah ar-Rayyan, Cetakan III 2017) sebagai bantahan terhadap logika (mantiq) setelah beliau melihat umat Islam begitu
    mengagungkan logika filsafat yang dibangun Aristoteles.

    See also  Camat Makassar Adakan Pertemuan Dengan Seluruh Staf Dan Tenaga Kontrak

    Laporan: Muhammad Akbar
    (Humas Madani Institute)

    Latest Posts

    spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

    Don't Miss

    Stay in touch

    To be updated with all the latest news, offers and special announcements.